Memiliki Sejarah

An excerpt from Atraksi-Lumba-Lumba. The book is a collection of short stories on love, family, and loss. Available here


“Bangunan apa itu? Indah sekali,” dia menggamit lenganku.

Kami sedang berada dalam sebuah taksi, melintasi jalan aspal yang mulai sepi di bawah lampu-lampu bercahaya kuning yang digantung pada besi hitam berukir. Tiang lampu hias itu ditanam pada trotoar yang membagi jalan menjadi lajur kiri dan kanan. Wajahnya menoleh pada sebuah bangunan bertingkat yang teramat besar, yang bagian depannya terpasang jendela-jendela lebar berkaca mati, sedang penerangan yang dihidupkan di sekelilingnya seperti tidak mampu menandingi kesuramannya: tembok-tembok putih yang menguning dan atap merah yang menjadi hitam karena malam tidak memiliki bulan.

“Rumah sakit. Kau suka?”

“Ya, pasti memiliki sejarah.”

“Manusia-manusia mati meninggalkan cerita.”

“Kau tahu banyak tentang ini?”

“Dulu, ayahku pernah dirawat di sana, berbulan-bulan. Kamarnya ada di atas, memiliki balkon yang menghadap ke jalan raya.”

“Menghadap ke sini?”

“Ya, aku bisa membayangkan diriku duduk di balkon itu pada malam hari, memperhatikan sebuah sedan hitam melintas yang membawa aku dan kau pulang dari sebuah restoran. Tangan kalian beraroma bunga sisa sabun cuci tangan.”

“Ah, kau menggodaku.”

Aku tersenyum.

“Ayahmu sakit apa?”

“Komplikasi.”

“Berapa usianya?”

“Dia mati sebelum berusia 60.”

“Terlalu muda,” dia mengeluh.

“Dia minum banyak anggur dan wiski di masa muda,” aku tersenyum. “Setidaknya dia sudah menghabiskan seluruh jatah kebahagiaannya.”

Taksi yang menjemput kami seusai makan malam, memutar di persimpangan lampu merah tak jauh dari sana, membuat kami harus melewati rumah sakit itu sekali lagi.

“Rumah sakit Ulin,” dia mengejanya sekali ini. “Ulin? Daerah ini bernama Ulin?”

Aku menggeleng, “Dulu daerah ini hanyalah rawa. Kayu besi atau ulin, hanya itu yang bisa bertahan selamanya dalam air. Seluruh rumah sakit ini dulu dibangun dari ulin, dua tahun sebelum Indonesia merdeka.”

“Sudah lama sekali.”

“Lama sekali.”

“Rumah sakit pertama?”

“Mungkin.”

“Rumah sakit ini sangat besar.”

“Tidak lebih besar daripada jumlah nama manusia yang berangkat pergi dari sini. Orang-orang mati juga perlu transit.”

“Ceritakan yang lain,” desaknya.

“Nanti di hotel, supir kita perempuan muda yang nanti akan pulang sendirian.”

“Nona, apakah kau takut hantu?”

“Tentu saja,” jawab si supir.

“Kau menakutinya,” tegurku.

“Aku menanyakannya,” dia menyanggah. “Nona, hantu itu tidak ada, Stephen Hawking sudah membantah semua teori itu,” ucapnya lagi.

“Jangan dengarkan dia, dia tidak berasal dari sini,” aku berkata pada si supir. “Dia berasal dari planet yang tidak terpetakan yang berusia lebih maju ribuan tahun peradaban dibandingkan kita penduduk bumi.”

“Kebenaran itu universal. Hantu itu memang tidak ada. Ini soal mekanika kuantum. Kau terlalu pakai perasaan.” dia berkeras dan mulutnya mengerucut. Aku tidak menanggapi.

Kami melewati jembatan yang memotong aliran sungai besar Martapura. Dari atas, kulihat permukaan sungai tidak memantulkan bayangan apa-apa selain sinar kekuningan dari sebuah swalayan yang telah lama ditinggalkan. Pada jam seperti ini hanya toko-toko bagian depan yang masih buka, kurang dari sepuluh pintu. Tidak ada yang bersedia berkunjung setelah waktu tengah malam sejak kerusuhan besar terjadi di sana: manusia-manusia marah merangsek masuk dan membakar pasar, menyisakan setumpuk tubuh gosong yang terperangkap. Meski telah berulang kali dipugar, kepiluan yang pernah terjadi di balik ruang-ruang kosong seperti sulit membebaskan diri.

Hotel kami berada di seberang swalayan itu. Mereka memiliki dermaga di bagian depan hotel yang berbatasan dengan sungai besar. Sebelum subuh, akan disiapkan sebuah perahu kecil untuk membawa para tamu menikmati terbitnya matahari di sepanjang sungai. Malam itu suasana ramai, sekumpulan orang tua saling bergantian menyanyikan tembang kenangan di kafe yang terhubung dengan lobi. Sepulang dari restoran, kami tidak langsung kembali ke kamar tapi turut duduk di kafe, memesan segelas minuman dingin untuk diminum berdua. Orang-orang lanjut usia itu saling berpasangan dan mereka berdansa pelan. Seorang lelaki tua yang tidak melepaskan topi berburu miliknya, berpakaian safari kuning gading membawakan lagu Tears in Heaven. Dia terbatuk di tengah lagu dan seorang pelayan bergegas membawakannya segelas air putih. Dia melanjutkan bernyanyi setelah minum.

“Kau tahu Eric Clapton menciptakan lagu itu untuk mengenang anaknya yang mati terjatuh dari lantai tinggi sebuah apartemen, satu hari setelah mereka pergi ke kebun binatang?”

“Aku tahu,” jawabku. “Pada malam sebelum dia mati, anak itu mengatakan pada ibunya bahwa dia bahagia sekali setelah perjalanan bersama ayahnya. Kau yakin itu kecelakaan?”

“Kau percaya teori konspirasi yang lebih mirip khayalan itu, bahwa ada orang yang tega membunuh anak kecil hanya agar Eric terus bernyanyi dan menghasilkan banyak uang dari sana?”

“Aku tidak memikirkan itu,” aku menatapnya. “Yang kupikirkan adalah bagaimana seseorang menghadapinya. Kehilangan orang yang mereka cintai.”

“Ya, masa-masa setelah kematian lebih menyakitkan dibandingkan dengan kematian itu sendiri.”

“Barangkali kehilangan seseorang hanyalah kematian kecil, ribuan kematian kecil yang terulang setiap hari sebelum kau menghadapi kematianmu sendiri. Setelah Tuhan kehabisan cara untuk merampas semua yang kau punya, Dia merampasmu. Jiwamu.”

Kami saling melempar senyum manis.

“Tuhan itu tidak ada,” dia menggeleng. “Sama seperti hantu.”

“Kita pernah berjanji kita tidak akan membahasnya lagi. Tuhan itu ada, meski beberapa ilmuwan besar membantahnya. Jadi, apa kau tidak mau ikut berdansa saja seperti mereka?” tanyaku padanya.

“Baiklah. Satu hukum yang pasti bahwa kita akan menjadi tua, tapi tidak seperti mereka itu.”

“Lalu seperti apa?”

“Perjalanan-perjalanan hebat, musik yang cepat,” kami bergenggaman tangan. “Kita akan menua dalam gaya.”