Menunggu

An excerpt from Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya, a collection of stories that follows a pair of lovers in a room on their last night together.. Available here


Kalau semuanya baik-baik saja, kalau semuanya sama saja, maka kau masih duduk di pojok restoran lapuk itu, menunggu pesananmu datang dan merobek lembar-lembar kalender. Bukan tugasku untuk mencarimu. Namun aku menemukan diriku tersesat lagi di kotamu, kali ini disengaja. Tak seperti tahun lalu, saat aku dan keluargaku salah ambil belokan dan terjebak macet yang seolah tak berkesudahan. Dari ujung satu provinsi ke provinsi tetangga, dari bukit-bukit muram barat daya sampai pesisir Pantai Utara, kami menunggu giliran pulang. Radio bilang, ada jembatan yang runtuh dan seluruh pemudik di pulau ini menumpuk di ruas jalan yang sama. Kau bilang, aku baru undur diri dari antrean menuju neraka.

Aku datang ke mari karena kotamu baru saja pupus. Gempa besar itu telah menyisakan kematian-kematian kecil di seluruh kota. Melalui layar kaca, aku melihat rumah-rumah yang runtuh atapnya, namun dindingnya masih kokoh seperti sediakala. Aku melihat puing-puing rumah yang diseret sampai muara Sungai Brantas. Sesekali, aku melihat tiang listrik yang miring sebelah dan memadamkan lampu di seantero kecamatan. Kau tahu? Dari udara, kotamu tak tampak cacat sedikit pun? Setiap ruas jalannya masih tertata rapi, perkampungannya masih berjejer di sebelah satu sama lain dan jalanan masih ramai dengan sepeda motor. Aku baru bisa melihat sisa-sisa luka itu ketika aku mendarat dan menyaksikannya sendiri. Seperti perangai orang-orang di kotamu yang dikenal budiman, gempa bumi ini tidak menghantarkan kehancuran yang final. Ia rupanya kenal basa-basi dan membunuh kotamu secara halus. Aku dengar ratusan orang telah meregang nyawa dan masih banyak lagi yang terdampar tanpa rumah maupun harta benda di alun- alun kota. Adakah pohon beringin yang telah berdiri ratusan tahun di sana cukup untuk meneduhkan mereka semua?

Ini yang menjadi soal kedatanganku ke kotamu. Apakah kau ada di antara mereka? Yang kehujanan dan kesulitan mencari kakus di pengungsian dadakan? Mereka berduyun- duyun ke sana, membawa sebanyak mungkin harta benda yang dapat mereka tampung dengan kedua tangan, sebelum rumah yang telah mereka tinggali sejak kecil berubah menjadi debu. Sebagian tiba di pengungsian membawa selimut dan baju, menimang bayi mereka dengan selendang batik, sebagaimana dahulu ibumu menghiburmu ketika kau menangis. Sebagian lagi datang membawa televisi, koper berisi baju, dan kipas angin. Ada seorang pengungsi yang luar biasa ngotot, sehingga ia tiba di pengungsian membawa kulkas. Ketika ia buka pintu kulkas itu, makanan, baju, dan manik-manik tumpah ruah dari dalamnya, seperti demit dan dosa meluap keluar kotak Pandora. Orang malang itu diam- diam saja ketika pengungsi yang lain berebut makanan yang ia simpan, mengutuk nasibnya yang celaka ketika ia tahu, kulkasnya ternyata sudah rusak. Ini menggelikan, namun apakah kau tahu semua ini? Apakah kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri? Apakah kau ada di antara mereka?

Taksiku melewati kamp pengungsian yang kacau balau itu. Supirnya berseloroh bahwa nanti malam Pak Gubernur akan datang. Ia akan mengajak orkes dangdut terbaik satu provinsi untuk tampil dan menghibur warga. Aku mengagumi siapa pun yang bisa melupakan kehilangan rumah dan keluarganya, hanya dengan alunan musik dangdut dan luapan anggur merah. Mereka akan sibuk bersenda gurau selagi petugas-petugas dari kota masih menggali mayat- mayat baru dari balik puing dan reruntuhan. Mereka akan mabuk dan asyik-masyuk selagi nama-nama saudara dan tetangga mereka yang tak jelas nasibnya dicoret satu per satu dari daftar orang hilang, setelah evakuasi digugurkan akibat cuaca buruk. Satu per satu, mereka akan membusuk di balik reruntuhan. Seseorang akan membangun toko, gedung, dan rumah di atas makam mereka yang tak bertanda. Tahukah kau? Semua ini terjadi sekarang juga, saat kau sedang berada entah di mana? Dahulu kau bilang kau suka menyanyi—apakah kau akan berjoget di antara kerumunan? Atau naik panggung dan bersanding dengan para biduan?

Dan rumahmu baik-baik saja. Rumah pondokan yang kamu bagi dengan beberapa orang kawan itu tampak tidak terganggu gempa, kecuali retakan-retakan di dinding dan atap yang telah runtuh sebagian. Kawanmu baru saja pulang kerja dan sedang menyeduh kopi sachet di dapur ketika gempa itu terjadi. Ia tertawa terbahak-bahak ketika berpikir, mungkin gempa itu—dan atap jebol yang tentu harus ia tanggung biaya perbaikannya—adalah karma buruk yang harus ia terima, karena mengambil kopimu tanpa minta izin. Kau tahu, ia rindu setengah mati kepadamu dan jengkel melihat tumpukan kopi sachet yang menganggur menanti Tuan-nya? Kita pernah sepakat, separuh bercanda, bahwa orang-orang sepertinya memang cenderung pemalas, namun tidak tahan melihat makanan-minuman menumpuk tanpa bisa ia sentuh. Kau juga seperti itu, ingat?

Ia sekarang tinggal sendirian di rumahmu. Kalian tadinya berempat—sama-sama perempuan yang merantau jauh dari keluarga dan berjarak dari kampung halaman. Bila tidak secara fisik, setidaknya secara pemikiran. Dunia yang kalian kenal bertikai tajam dengan ajaran-ajaran kolot orangtua kalian, dan masing-masing memilih cara berbeda untuk menanggulanginya. Kawanmu yang bekerja di kafe memilih untuk meladeni orangtuanya, meski setiap telepon dari kampung yang tadinya hanya menanyakan kabar selalu berakhir dengan sumpah serapah. Kawanmu yang bekerja di klinik kesehatan menyobek kartu nomor telepon lamanya dan mengganti dandanannya secara drastis. Beruntung, ia jauh sekali dari kampung kedua orangtuanya dan tak punya saudara di kotamu. Hanya kau yang tinggal agak dekat dengan orangtua, katamu, cukup naik motor 45 menit. Apakah kau ada di sana sekarang? Menghiasi dinding kamar masa kecilmu dan berangkat ke gereja dengan sejuta kidung pujian?