Kau Akan Berbahagia

 
bogdan-dada-279935-unsplash.jpg

Nukilan dari novel debut Pratiwi Juliani, Dear Jane (penulis Atraksi Lumba Lumba, Emerging Writers Series 2018). Terbit 4 Maret yang akan datang. Dear Jane mengisahkan cerita seorang perempuan muda yang hidupnya berubah setelah bertemu seorang pria bernama Andri. Dear Jane mengajak pembaca untuk mengenali diri sendiri, dan bagaimana sebuah hubungan cinta dan kasih sayang bisa menjadi dasar dari segala sesuatu yang terjadi di hidup masing-masing.

 

 

Satu per satu pemain jazz di kafe itu berdatangan. Mereka duduk-duduk sambil menggenggam segelas bir di antara peralatan musik. Perangkat drum yang memakan ruang paling besar ditempatkan di sudut paling belakang. Tidak ada panggung, hanya sebuah arena kecil untuk mereka bermain dengan latar tirai beludru merah sangat tua yang terlihat seperti hitam setelah lampu-lampu diredupkan. Terdapat banyak lampu gantung antik yang indah dengan cahaya kekuningan yang lembut. Aku menyesal tidak bisa mendapatkan meja terdepan.

“Kupikir wanita itu penyanyi, ternyata bukan,” kukatakan itu kepada Andri setelah satu-satunya wanita di antara para pemusik itu berdiri dan mengambil saksofon.

“Ya, kupikir juga begitu.”

“Mari kita lihat. Kau tahu Indiara Sfair?”

“Oh, permainannya bagus sekali.”

“Saksofon lebih berat daripada harmonika. Jadi, mari kita lihat.”

“Jane.” Andri menggamit tangankuaku perlahan. “Terima kasih,” katanya tulus. “Pengalaman serupa ini tidak dimiliki semua orang.”

Aku tersenyum dan menepuk punggung tangannya. “AkuAku senang bertemu kamu. Rasanya seperti akubicara dengan diriku sendiri.”

Pramusaji mengantarkan ribs steak yang mengepul untukku. Saus merah dari buah bit dan warna kuning dari kejunya bercampur karena kejunya meleleh.

“Kau lihat,” ujarku sembari menyenggol bahu Andri, “makananku seperti otak dan darah dari kepala monyet.”

“Kau gila,” Andri menyahut tertawa.

“Tapi ini enak.” Kucolek sedikit sausku. “Kepala kera cair ini enak!”

“Hentikan. Kau membuatku ngeri.” Andri menutup wajahnya dengan sweater.

Yang menyanyi malam itu adalah seorang pria kurus berkemeja abu-abu. Dia menyanyikan lagu-lagu jazz yang hampir semuanya dibawakan dengan versi penyanyi perempuan karena suaranya sangat lembut.

“Suaranya selembut suaramu,” aku berkomentar.

“Ya, suaraakuku memang tak seperti pria kebanyakan, Jane. Bukan bariton. Itu menyedihkan.”

“Apanya?”

“Dulu, semasa awal menjadi penyanyi kafe, aku sering diejek penyanyi yang lebih senior dengan panggilan si suara perempuan. Apa boleh buat, aku harus makan semua itu. Orang tuaku miskin, aku tidak punya pilihan kecuali terus menyanyi agar bisa membayar uang kuliah.”

“Mereka hanya iri. Suaramu itu, aku menyukainya sejak pertama mendengar.” Aku merasa sangat kasihan padanya.

“Letting It Loose” dari Heatwave atau “Hold Me Tighter in the Rain” Billy Griffin, aku mengenali lagu-lagu itu. Aku dekat dengan lagu-lagu itu sedari kecil, selalu terdengar bergema setiap pagi di rumahku dari pemutar musik ayahku. Orang yang telah mati dan tembang-tembang lawas adalah perasaan yang usang, tetapi selalu menunggu untuk dihidupkan kembali.

Menjelang tengah malam, beat cepat digantikan irama yang lebih sendu. Mereka membawakan lagu-lagu tentang jatuh cinta atau patah hati. Tentang memiliki juga kehilangan.

“Mengapa kau begitu diam?” Andri memperhatikanku.

“Entahlah. Lagu-lagu ini membuatku sedih.”

“Mengapa?”

Aku mengangkat bahu.

“Sebenarnya, aku juga.”

“Mengapa?”

“Tidak tahu.”

Sebuah poster besar dengan gambar gelas bir yang penuh busa menempel pada dinding bata tanpa plester di ujung meja bar. Poster itu bersebelahan dengan papan tulis memanjang yang berisi daftar ragam menu steik, kentang goreng, juga salad, ditulis dengan kapur warna-warni.

Everyone needs something to believe in. I believe I’ll have another beer,” Andri membaca tulisan pada poster itu. “Kau mau bir, Jane?”

“Daripada percaya bir, aku lebih percaya bahwa suatu hari nanti aku akan menemukan orang yang bisa membuat aku bahagia…”

“Kau tidak bahagia, Jane?”

Aku menggeleng.

“Berapa usiamu?” Andri bertanya.

“Dua puluh delapan.”

“Masih sangat muda. Kau akan berbahagia, Jane.”

“Kau sendiri? Apa kau bahagia?”

Andri menggeleng.

“Aku tidak…” Dia menekuk-nekuk tatakan gelas dengan ujung kukunya. “Mungkin aku tidak tahu apakah aku berbahagia atau tidak.”

“Kenapa?”

“Aku hidup dengan orang yang tidak mengerti apa yang aku bicarakan, tidak suka musik yang aku dengar, tidak senang saat diajak menonton film bagus.” Andri tertawa pahit.  “Sepele, tapi rasanya seperti kau tidak punya teman dalam hidupmu. Kau kesepian sepanjang hidupmu.”

Aku mengerti maksud Andri. Selama ini, aku merasakannya juga.

“Tapi usia bukanlah sesuatu yang bisa kaulawan, Jane. Orang-orang seperti aku sudah tak lagi kuasa melawan nasib. Kebahagiaan bukan lagi hal yang bisa kukejar, hanya bisa aku nikmati apa adanya, seada-adanya.”

“Ini bukan soal usia, Andri. Ini soal keberanian. Kau tidak suka pasanganmu, tinggalkan. Kau tidak suka pekerjaanmu, tinggalkan.”

“Tentu soal tanggung jawab juga, Jane. Manusia lahir dengan tujuan harus menjadi benar.”

“Benar bagi siapa? Jika kebenaran hanya sebuah kata yang didapatkan dari timbangan bersama, lalu kepada siapa manusia menggugat jika kebenaran itu justru memberangus kebahagiaannya sendiri?”

Andri diam. Aku menatap orang-orang di sekeliling kami. Dua orang lelaki yang duduk tak jauh darinya terus berciuman dengan tangan saling bertaut di antara gelas bir. Perempuan dan laki-laki saling menyayangi malam ini. Mereka berbagi tempat duduk, saling memeluk dan berbisik-bisik saat musik mesra dimainkan. Kebahagiaan berkilatan di mata semua orang.

“Ini akan menjadi satu malam yang akan terus aku ingat sepanjang hidupku, Jane. Aku bertemu kamu, kita membicarakan banyak hal dengan gembira, makan kue hangat, dan menyaksikan pertunjukan musik yang bagus. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini. Bertemu denganmu adalah hal terbaik yang terjadi padaku setelah sekian lama.”

Aku menatap Andri dan mengangguk.

“Maukah kau memelukku?”

Kami berpelukan erat. Aku ingin sekali menangis.

“Sudah pukul tiga, kau harus pulang.” Andri melihat arlojinya. “Aku akan mengantarkanmu. Di mana hotelmu?”

“Selama di sini, aku tidak tinggal di hotel. Aku menumpang di rumah sepupuku. Kau akan kebingungan jika harus mengantarku.” Kuraba kunci apartemenku di saku celana untuk memastikan bahwa kunci itu masih di sana.

“Aku tidak akan membiarkanmu pulang seorang diri.” Alis Andri berkerut.

“Aku sudah memberitahunya bahwa aku akan menginap di hotel malam ini.”

“Kau sudah memesan hotel?”

“Ya, hotel yang aku bisa melihat tulisan I Amsterdam dari balkon kamarku.” Aku mengedipkan sebelah mataku kepadanya. “Aku memesan hotel yang sama denganmu.”

Andri mengguncang bahuku dengan keras karena terlalu girang. Dia kemudian memelukku rapat hingga aku bisa merasakan dadanya yang berdegup keras.

“Pelan-pelan, bahuku bisa patah.”

“Maaf, maaf,” Andri minta maaf berulang kali. “Aku hanya terlalu senang.”

Aku mengangkat bahu.

“Fyuuuh,” Andri mengembuskan napas dengan lega. “Kau tahu, aku bahkan sempat takut kita tidak bisa berjumpa lagi.”

“Tapi aku tak punya baju ganti. Setidaknya, besok pinjami aku kausmu. Sepertinya ukuran tubuh kita sama.”

“Aku akan membelikan yang baru sebagai ucapan terima kasih.”

“Baiklah.” Aku mengangguk. “Kita pulang sekarang?”

“Tentu saja.” Andri memasangkan mantelku sebelum mengenakan sweaternya. Aku semakin bersedih saat menyadari selama ini Paul tidak pernah memasangkan mantel untukku, tidak peduli sedingin apa pun suatu malam akan berlalu.

Kami membagi kembali bon kami malam itu di meja kasir, lalu berjalan beriringan ke luar kafe. Berdua kami terus berjalan, bergandengan tangan menembusi malam di Amsterdam, meninggalkan bunyi gemerisik sepatu dan tawa kami di trotoar, sementara pria kurus berkemeja abu-abu tengah menyanyikan “Don’t be A Fool” dari Gregory Porter dengan sangat indah.