Mencium Kuncup Bunga

 

An excerpt from Serayu Malam, a collection of short stories by Muhammad Wahyudi on a young man’s journey and the characters that he meets. Available here


Sudikah kau mendengar cerita yang bulan lalu kudapat dari penjual bunga keliling di pasar pekan? Ia mewanti-wanti bahwa cerita ini hendaknya kau teruskan ke anak cucu, selagi kau masih bernafas dengan waras. Ini adalah kisah yang lambat laun akan kau ingat begitu saja tanpa ada yang memancingnya keluar, entah itu kau sedang makan pisang goreng atau sedang menggoreng pisang, atau sekadar sedang bertamasya di Amerika. Namun ini juga merupakan satu dari sekian banyak cerita yang pada akhirnya akan kau lupakan begitu saja karena harga BBM atau cabe merayu uang di dompetmu berloncatan keluar. Ini adalah kisah mengenai lelaki, puisi, dan bunga-bunga.

Di setiap pemakaman, pasti ada saja nisan yang tak lagi dikunjungi siapapun. Tak ada lagi yang peduli kisah hidup siapa yang ditanam di situ. Begitupun di setiap perpustakaan, selalu ada saja buku yang tak lagi dibuka siapapun. Tak ada satupun yang tahu pahlawan macam apa melawan tukang tenung bagaimana yang ditulis di situ. Seperti halnya demikian, maka di setiap kerumunan manusia, selalu saja ada seseorang yang nasibnya seperti nisan dan buku tadi. Keberadaannya seperti genangan setelah hujan di hari-hari yang tampak sedih –dilewati saja tanpa digubris. Beberapa orang mengenalnya sebagai lelaki aneh yang sering menggarap tanah terbengkalai di tepian sungai, lebih tepatnya lelaki tak terhiraukan.

Sudah beberapa waktu terakhir, tepian sungai berubah menjadi warna-warni. Bunga-bunga yang warnanya tak seragam bermekaran silih berganti. Tidak ada fenomena alamiah yang bisa membujuk tanah menumbuhkan mawar dan melati dan kenanga dan dahlia dan asoka berselang-seling damai sentosa. Wewangian harum kini semerbak saban sore. Pada mulanya tetangga satu mengira tetangga lain sedang pamer parfum. Ketika seluruh desa membicarakan hal yang sama, cerlanglah otak mereka bahwa tidak ada tetangga yang berbuat demikian. Selagi desas-desus masih ramai mengudara, wangi berbagai bunga kembali meruap.