Merindukan Debur Ombak

 

An excerpt from Suara Murai, a collection of poems by Andre Septiawan on history, legacy, and mythology. Available here


Akhirnya, kapal itu meninggalkan dermaga jua, seperti ketel tua berasap peninggalan Belanda kepunyaan nenekmu dari abad sembilan belas. Membawamu menuju pantai-pantai penuh garam dan kapal karam di lautan maha luas.

Kau mencari pertautan simpul bumi dan matahari. Ingin menziarahi kembali negeri-negeri yang disinggahi datuk-datukmu sebelum mendamparkan lambung kapalnya di puncak gunung Marapi.

“Sebab rasa asin telah mendarah daging. Tiada yang asing, pada darahku, air laut menggelegak dan dagingku, tempat angin buritan berpusing di geladak. Aku orang gunung yang akan selalu merindukan debur ombak.”